PERNIKAHAN di MEDIA SOSIAL

# Tips Keluarga Ideologis 212

PERNIKAHAN di MEDIA SOSIAL
Oleh Kholda Naajiyah
Redaktur Media Umat
.
Heboh, belum lama ini, pasangan belia yang baru nikah hitungan bulan sudah cerai. Padahal pelakunya ikhwan-akhwat yang dari tampilannya ngerti agama. Yang satu kuliah agama, yang satunya berhijab. Menjadi heboh, lantaran keduanya sosok terkenal di media sosial. Sehingga, para follower mereka tentu saja tahu semua.
.
Ya, saat ini di media sosial sedang trend nikah muda. Apalagi di kalangan selebritis instagram. Ikhwan-ikhwan berjenggot jadi idola. Bikin baper saat update status telah menghalalkan hijaber pujaannya. Sementara sang hijaber, tentu saja tertutup rapi auratnya (walau privacynya kerap diumbar).
.
Nah, namanya pengantin baru, mulailah masalah demi masalah satu persatu mencuat. Apalagi ego masih tinggi. Hingga kata cerai dipublikasikan. Membuka aib yang seharusnya ditutupi. Hmm…begitulah potret pernikahan di media sosial zaman now. Indah pada mulanya, getir akhirnya.
.
Padahal, Islam menjadikan nikah sebagai moment sakral untuk menyempurnakan agama. Bukan main-main. Sebentar nikah, sebentar cerai. Nikah lagi, cerai lagi. Makanya hati-hati ketika memutuskan menikah. Apalagi usia masih muda. Kenal jodoh juga cuma di media sosial. Berikut ini beberapa nasihat sebelum memutuskan menikah:
.
1. Luruskan niat
.
Benar-benar menikah karena ibadah. Bukan mengejar status sosial. Bukan sekadar mengakhiri status jomblo, karena kerap jadi sasaran bully. Bukan sekadar ingin mengejar trend, bisa nikah muda. Bukan sekadar ingin membahagiakan orangtua. Bukan mumpung ada yang mau. Bukan karena ingin kaya. Bukan karena calonnya orang ternama. Bukan yang lain.
.
2. Teliti calon
.
Saat menentukan pilihan sebagai pasangan hidup, sudahkah meneliti dan mengenali calon dan keluarga besarnya dengan sempurna? Meski calon pasangan sudah hijrah, ada baiknya juga tahu track record sebelumnya. Sudah sedalam apakah pemahaman agamanya. Jangan hanya melihat tampilan luarnya. Tes bacaan Alqurannya, tanyakan aktivitas hariannya, juga pandangannya tentang Islam, dakwah, dll. Calon suami berhak bertanya, apakah sebelumnya pernah pacaran, misalnya. Calon istri juga berhak bertanya yang sebaliknya. Ini penting. Supaya di kemudian hari tidak jadi masalah besar.
.
3. Satu frekuensi dalam visi
.
Sudahkah saat proses khitbah kedua calon mempelai bicara berdua, merumuskan visi, akan membangun rumah tangga seperti apa? Visi ini penting. Misalnya, apakah keduanya sepakat membangun rumah tangga ala selebriti, yang segala privacynya diumbar ke media sosial. Nikah, upload. Bulan madu, upload. Jalan-jalan, upload. Haruskah seperti itu? Ataukah ingin membangun rumah tangga dakwah. Membangun rumah tangga pejuang syariah. Membangun rumah tangga hafizd quran. Tentukan visinya. Ini yang harus dilakukan seiring sejalan.
.
4. Memahami hak dan kewajiban
.
Bicarakan dengan terbuka sebelum menikah, hak dan kewajiban masing-masing setelah menikah nanti. Memang, semua paham, bahwa istri harus taat pada suami, dan sebaliknya suami harus mendidik istri dengan lembut. Tapi, praktiknya tak semudah teori. Maka, harus bersedia komitmen menyingkirkan ego masing-masing, tundukkan pada syariat Islam. Boleh nikah usia dini, tapi sikap harus dewasa.
.
5. Bekali Ilmu
.
Meminjam istilah Ustaz Iwan Januar, pernikahan itu bukan bak dongeng Cinderela. Bahkan itu tidak ada realitasnya dalam kehidupan. Karena, nikah itu banyak lika-likunya. Sebelum memutuskan menikah, bekali dengan ilmu. Bertanyalah pada orangtua yang sudah pengalaman. Belajarlah pada ahlinya. Memang, ilmu pernikahan sebatas teori, karena belajarnya seumur hidup sepanjang praktik. Maka mantapkan hati untuk mempraktikkannya dengan jodoh pilihan yang juga dimantapkan oleh Allah SWT. Mohon selalu petunjuk-Nya.(*)