Menjemput Jodoh Islami

Sahabat muslimah..
Bulan haji seperti sekarang biasanya dapat banyak undangan pernikahan ya?

Pernikahan di kalangan Islam yang sempat bikin heboh adalah ketika Muzammil Hasballah menyunting Sonia Ristanti di Banda Aceh, Jumat (7/7/2017). Konon pernikahan qori yang juga imam muda lulusan ITB itu, membuat para akhwat terbawa perasaan. Banyak yang memimpikan jodoh saleh seperti Muzammil.

Di satu sisi, ini fenomena yang patut disyukuri. Dalam artian, pandangan terhadap sosok pemuda idaman kini mulai bergeser ke “kanan”. Dahulu, yang diidolakan itu mungkin aktor atau penyanyi ganteng yang populer. Sekarang, hafiz Qur’an bersuara merdu dengan pernikahan islami jadi impian.

Dampak baiknya, banyak muslimah yang menyatakan diri bakal hijrah demi memantaskan diri, bisa mendapatkan jodoh saleh yang didambakan. Hal itu tentu sah-sah saja. namun, harus diluruskan niatnya. Pasalnya, membangun pernikahan islami bukan sebatas cassing luarnya saja.

Asal ikhwannya berjenggot, bagus bacaan Alqur’annya, cukup jadi dambaan. Sementara akhwatnya yang penting berhijab, bahkan bercadar. Itu saja tidak cukup. Ada hal yang harus diluruskan untuk memantaskan diri menjemput jodoh islami:

1. Tidak mengidolakan sosok tertentu.

Tidak panas seorang muslim atau muslimah mengidolakan sosok tertentu, apalagi manusia biasa yang masih hidup. Sekalipun tampak kebaikan-kebaikannya, apalagi yang terlihat di media sosial, sosok seperti itu tetaplah bukan malaikat yang serba ideal. Hilangkan impian untuk mendapatkan pasangan sesuai idola di media sosial misalnya, karena jika kelak berjodoh dengan sosok biasa saja, akan merusak pikiran. Boleh jadi akan terus membanding-bandingkan dengan idolanya.

2. Hijrah demi Allah, bukan yang lain.

Baik muslim maupun muslimah, tidak pantas berniat mendekati Islam demi mendapatkan jodoh semata. Niatkan lilahi ta’ala. Hijrah menuju saleh dan salehah adalah keharusan. Kewajiban untuk lebih mengenali diennul Islam. Penampilan islami, adalah konsekuensi dari pemahaman. Bukan sekadar ikut-ikutan, demi mendapatkan jodoh islami yang sedang trend.

3. Tidak mengumbar perasaan di media sosial

Baik muslim maupun muslimah hendaknya menjaga izzah dengan tidak mengumbar perasaan di media sosial. Kegalauan karena masih jomblo misalnya, tidak perlu diumbar. Kekaguman pada sosok ikhwan atau akhwat yang mendebarkan hatinya, tidak perlu diumumkan. Apalagi kagum berlebihan pada sosok yang sudah menikah. Tundukkan pandangan. Tundukkan hati dan pemahaman.

4. Mengikuti proses ta’aruf islami

Di era media sosial ini, tidak sedikit memang ikhwan dan akhwat yang berjodoh di dunia maya. Akibat saling intip profil, saling stalking postingan, lama-lama terbawa perasaan. Jika memang sudah ada rasa, tetap jalani perkenalan dengan ta’aruf islami. Tidak membiarkan perasaan larut dalam interaksi yang melanggar syara’.

5. Menikah dengan Proses Islami

Jika sudah bertemu jodoh idaman, gelar akad dan walimah syar’i sesuai aturan Islam. Bukan mengikuti selera pasar atau tuntutan media sosial alias demi eksis. Misalnya, pernikahan yang terpisah antara jamaah ikhwan dan akhwat. Tidak mengumbar pengantin wanita dengan tabaruj-nya. Tidak membiarkan tamu yang tidak menutup aurat, atau menikmati hidangan dengan berdiri.

6. Hindari menampakkan kemesraan berlebihan

Ada saja aktivis Islam yang menampakkan romantisme dan kemesraan berlebihan dengan pasangannya. Apalagi pasangan pengantin muda. Hal ini kurang ahsan. Boleh jadi, di luar sana banyak yang tidak seberuntung mereka dalam hubungan rumah tangga. Meskipun diniatkan untuk menginspirasi pasangan lainnya, namun lebih utama menjaga izah.

By : Kholda Najiyyah dengan sedikit ubahan. Dipost di Tabloid Islam Media Umat