Bahkan Andai Matahari Di Tangan

Para pembesar kafir Quraisy berkata kepada Abu Thalib, “Kau adalah orang yang paling tua, terhormat dan berkedudukan di tengah kami, seorang pemimpin Quraisy. Tolong hentikan anak saudaramu itu, suruh agar Muhammad menghentikan dakwahnya. Kalau tidak, nanti kami akan membunuh Muhammad kalau dia masih melakukan dakwahnya.”

Abu Thalib yang sangat sayang pada Rasulullah SAW merasa gentar juga, takut. Maka dipanggillah beliau, “Muhammad, kau tahu kan aku mencintaimu seperti anakku sendiri.”
“Iya Paman, aku tahu kau sangat mencintaiku.”
“Kau tahu kan aku sangat menyayangimu sehingga aku membesarkanmu dan mendidikmu seperti anakku sendiri.”
“Aku tahu itu Pamanku, aku tidak akan lupakan itu.”

“Muhammad, sesungguhnya para pembesar Quraisy datang menemuiku, mereka mengatakan begini dan begitu kepadaku. Maka Muhammad, janganlah kau membebaniku dengan urusan yang tak sanggup kuatasi. Muhammad, aku meminta padamu agar kau berhenti berdakwah, jangan lagi kau sebarkan Islam ini.”

Subhanallah.. Berjatuhan air mata Rasulullah SAW. Kenapa?

Beliau sedih sekali karena merasa bahwa paman yang sangat disayanginya telah meninggalkannya. Beliau mengira pamannya sudah tidak mau lagi mendukungnya, tidak mau lagi melindungi dan berdiri di samping beliau.

Maka beliau berkata, dengan kalimat yang agung,
“Wallahi (Demi Allah) Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku menghentikan dakwah ini, niscaya aku tidak akan menghentikan dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa.”

Dengan kata lain, maksud Rasulullah SAW adalah: ‘matahari di tangan kanan itu mustahil, bulan di tangan kiri, itu juga mustahil, aku meninggalkan dakwah ini, itu lebih mustahil lagi daripada matahari di tangan kanan dan bulan di tangan kiri.’
Subhanallah.. indahnya balaghoh beliau ya.
Rasulullah SAW meneteskan air mata, sedih hatinya, kemudian bangkit berdiri, “Maaf Pamanku, aku kira kau akan ada di sampingku dalam dakwah ini. Tapi ternyata tidak. Maafkan aku, Paman.”

Mendengar itu Abu Thalib pun mengucurkan air mata, “Muhammad, tunggu.”
Maka Rasulullah SAW yang sudah berpaling hendak pergi, berbalik menghadap kepada Abu Thalib.
Abu Thalib berkata, “Muhammad, sebarkan dakwahmu, dakwahlah sesukamu. Aku ada di sampingmu.”

By. Prof Fahmi Amhar